Anggota Kongres AS Mendesak Amandemen ke-25 untuk Mencopot Donald Trump

Amandemen

jigolokayitolun – Belakangan ini, wacana soal Amandemen ke‑25 Konstitusi Amerika Serikat makin menguat di Washington DC dan di banyak forum politik, terutama di kalangan legislator Partai Demokrat, sejumlah mantan sekutu Trump, bahkan beberapa tokoh konservatif yang dulu mendukungnya. Mereka menyerukan agar mekanisme ini digunakan untuk mencopot Donald Trump dari jabatannya sebagai Presiden AS bukan karena sekadar perbedaan kebijakan, tapi karena kekhawatiran serius soal stabilitas mental, perilaku ekstrem, dan risiko keamanan nasional yang dipicu oleh pernyataannya baru‑baru ini.

Desakan itu makin memanas setelah Trump membuat berbagai pernyataan publik dan postingan media sosial yang dinilai mengejutkan banyak pihak termasuk sebuah ancaman ekstrem bahwa “sebuah peradaban utuh akan lenyap malam ini” terkait konflik dengan Iran, sesuatu yang memicu gelombang kecaman dari berbagai pihak di Kongres.

Apa Itu Amandemen ke‑25 dan Mengapa Dibuat

Amandemen ke‑25 adalah bagian dari Konstitusi AS yang diratifikasi pada 10 Februari 1967 sebagai respons terhadap kekosongan hukum yang terjadi setelah pembunuhan Presiden John F. Kennedy pada 1963. Saat itu muncul pertanyaan besar apa yang harus terjadi jika Presiden meninggal, tidak dapat menjalankan tugasnya, atau tiba‑tiba tidak kompeten? Konstitusi asli hanya menyatakan bahwa wakil presiden menggantikan presiden, tanpa mekanisme formal dan terperinci.

Amandemen ini terdiri dari empat bagian utama :

  • Bagian 1 : Wakil presiden otomatis jadi presiden jika presiden meninggal, mengundurkan diri, atau dipecat.
  • Bagian 2 : Menyediakan prosedur pengisian kekosongan jabatan wakil presiden melalui nominasi presiden dan persetujuan Kongres.
  • Bagian 3 : Presiden bisa secara sukarela menanggalkan kekuasaan sementara, misalnya sebelum menjalani operasi.
  • Bagian 4 : Ini yang paling kontroversial, wakil presiden + mayoritas Kabinet atau badan lain yang ditunjuk oleh Kongres bisa menyatakan presiden tidak mampu menjalankan tugasnya. Itu membuat wakil presiden jadi acting president sampai Kongres memutuskan.

Bagian ke‑4 itu sengaja dirancang untuk menangani situasi ekstrem bukan hanya soal kesehatan fisik, tapi juga soal ketidakmampuan mental presiden untuk memimpin.

Contoh Penggunaan Amandemen ke‑25 di Sejarah

Sepanjang sejarah AS, sebagian besar penggunaan Amandemen ke‑25 terjadi secara sementara dan sukarela, bukan untuk menurunkan presiden secara paksa:

  • Pada 1973, setelah pengunduran diri Spiro Agnew sebagai wakil presiden, Nixon menominasikan Gerald Ford yang dikonfirmasi melalui Amandemen ke‑25.
  • Pada 1974, setelah Nixon mengundurkan diri terkait skandal Watergate, Ford menjadi presiden dan mengangkat Nelson Rockefeller sebagai wakil presiden.
  • Presiden Ronald Reagan pada 1985 menyerahkan sementara kekuasaan kepada Wakil Presiden George H.W. Bush saat menjalani operasi medis.
  • Presiden George W. Bush pada 2002 dan 2007 juga menyerahkan sementara kekuasaan saat menjalani prosedur medis.

Namun Bagian 4, mekanisme penurunan presiden secara paksa belum pernah dipakai secara resmi dalam sejarah AS. Itu karena tingginya standar hukum dan politik yang harus dipenuhi terlebih dahulu.

Kenapa Sekarang Ada Desakan Kuat Mengaktifkan Amandemen ke‑25?

Momentum desakan ini muncul setelah sejumlah aksi dan pernyataan Trump yang dianggap membahayakan ancaman ekstrem terhadap Iran, retorika yang dinilai tidak konsisten secara rasional, dan kekhawatiran bahwa perilakunya bisa mengarah pada konflik besar atau bahkan tindakan yang bisa dilihat sebagai pelanggaran aturan internasional.

Lebih dari 70 anggota Kongres dari Partai Demokrat menyerukan penggunaan Amandemen ini, dengan beberapa di antaranya secara terbuka meminta Kabinet Trump untuk bertindak. Tokoh seperti Senator Chris Murphy, Representative Ro Khanna, dan bahkan tokoh konservatif seperti Marjorie Taylor Greene ikut mengecam retorika ekstrem itu dan menyatakan bahwa tindakan semacam itu tidak mencerminkan kemampuan seorang presiden menjalankan tugasnya.

Gubernur JB Pritzker dari Illinois bahkan bergabung dalam seruan tersebut, menunjukkan bahwa kekhawatiran itu tidak hanya datang dari lingkaran Demokrat semata tetapi juga dari tokoh yang terkadang dikenal sebagai pendukung kebijakan luar negeri kuat.

Bagaimana Mekanisme Amandemen ke‑25 Bekerja Secara Detail

Secara struktur, proses aktivasi Bagian 4 tak semudah menekan tombol darurat. Ini linimasa langkahnya:

  1. Inisiasi : Wakil Presiden bersama mayoritas Kabinet (atau tubuh lain yang ditetapkan Kongres) harus menandatangani pernyataan tertulis bahwa presiden tidak mampu menjalankan tugasnya.
  2. Serahkan ke Kongres : Pernyataan ini kemudian dikirim ke President pro tempore Senat dan Speaker of the House.
  3. Wakil Presiden bertindak : Setelah itu, wakil presiden otomatis menjadi acting president sementara masalah dinilai lebih lanjut.
  4. Jika Presiden Membantah : Presiden bisa mengirim surat mengatakan dirinya masih mampu.
  5. Peran Kongres : Jika Kabinet tetap pada pendiriannya, Kongres harus memutuskan dalam waktu 21 hari; diperlukan dua pertiga suara di kedua kamar (House dan Senate) agar wakil presiden tetap sebagai acting president. Kalau gagal, presiden kembali memegang kekuasaan.

Proses ini sengaja dibuat sulit dan memerlukan konsensus besar sehingga tidak mudah dipakai untuk memecat presiden hanya karena kebijakan yang tidak populer tetapi hanya dalam kondisi nyata di mana presiden tidak lagi mampu menjalankan tugas konstitusionalnya.

Amandemen ke‑25 vs Impeachment: Bedanya Harus Jelas

Sering kali orang ngegabungin kedua hal ini, padahal meskipun sama‑sama bisa bikin presiden kehilangan jabatan, tujuan dan prosesnya berbeda total.

Impeachment adalah proses hukum politik yang dipicu oleh pelanggaran hukum atau konstitusi (high crimes and misdemeanors). DPR memformalkan pasal pemakzulan, lalu Senat mengadakan trial dan membutuhkan dua pertiga suara untuk menjatuhkan hukuman. Ini tidak langsung memindahkan kekuasaan presiden bisa tetap jabatan hingga proses rampung.

Amandemen ke‑25 (Bagian 4) bukan soal kesalahan hukum, tapi ketidakmampuan presiden menjalankan tugasnya secara efektif. Itu bisa terjadi karena gangguan mental, perilaku ekstrem, atau situasi darurat lain. Jika disetujui oleh Kabinet dan Wakil Presiden, wakil presiden bisa langsung mengambil alih sementara.

Dalam konteks Trump sekarang, beberapa anggota Kongres mendesak kedua jalur sekaligus impeachment dan aktivasi Amandemen ke‑25 karena mereka menganggap perilaku presiden sangat serius dan memerlukan respons cepat.

Tantangan Politik dan Kenapa Ini Tak Mudah Terwujud

Walaupun banyak seruan, pakar hukum dan analis politik menilai bahwa mengaktifkan Amandemen ke‑25 untuk menggulingkan Trump amat sulit secara praktis.

Butuh dukungan Kabinet dan Wakil Presiden, Kabinet Trump saat ini secara umum setia kepada presiden, dan Wakil Presiden JD Vance kemungkinan besar tidak akan memulai proses itu. Presiden Trump tetap menjadi tokoh dominan di Partainya, dan sebagian besar anggota Republik di Kongres tidak akan mendukung deklarasi ketidakmampuan. Dua pertiga dukungan di House dan Senate dalam konteks iklim politik yang terpolarisasi sangat sulit dicapai, bahkan jika presiden sendiri membantah deklarasi.

Akibatnya, meskipun seruan publik meningkat dan wacana di media sosial ramai, sebagian analis menyebut upaya itu sebagai “long shot” atau target yang sangat sulit dicapai secara konkret.

Apa yang Sebenarnya Diperdebatkan Sekarang

Perdebatan bukan cuma soal hukumnya bisa atau tidak, tapi soal layak atau tidak layak seorang presiden dianggap tidak mampu menjalankan tugasnya. Banyak legislator Demokrat menitikberatkan pada narasi bahwa retorika ekstrem dan aksi militer Trump tanpa konsultasi mencerminkan risiko ketidakstabilan yang tidak bisa diabaikan, sementara lawan politik dan pendukung Trump menilai seruan itu sebagai politisasi ekstrem terhadap kebijakan yang sah.

Sesungguhnya, isu ini membuat perdebatan yang lebih besar tentang bagaimana menjaga checks and balances, keseimbangan kekuasaan agar seorang pemimpin nasional tidak mendapatkan terlalu banyak kendali tanpa pengawasan yang efektif dari legislatif atau eksekutif lain.

Kesimpulan

Desakan penggunaan Amandemen ke‑25 untuk mencopot Donald Trump adalah refleksi dari ketegangan politik yang sangat tajam dan kekhawatiran yang mendalam di sebagian besar kubu legislatif tentang apa yang dianggap sebagai perilaku yang berpotensi membahayakan negara. Meskipun secara konstitusional prosedurnya tersedia, sejarah dan praktiknya menunjukkan bahwa mekanisme ini sangat sulit untuk diaktifkan secara paksa, dan kemungkinan besar akan tetap menjadi bagian dari perdebatan politik dan hukum yang hangat.

Amandemen

Referensi

  • “Trump’s Easter threats spark 25th Amendment debate.” PBS NewsHour.
  • “Republicans silent as Democrats call on US cabinet to oust Trump over Iran.” The Guardian.
  • “Why using the 25th Amendment to remove Trump is a long shot.” Axios.
  • “Democrats are using the I-word again.” The Washington Post.
  • PolitiFact, “Following Trump’s Iran social media post, could the 25th Amendment be invoked against him?” (detailed explanation of amendment history and mechanics)