Hari Kesaktian Pancasila Setiap 1 Oktober, Indonesia memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Upacara bendera digelar, monumen Lubang Buaya ramai disebut, dan media menayangkan seremonial kenegaraan. Namun, bagi saya, momen ini jauh melampaui sekadar simbolisme. Ini adalah pengingat bahwa politik Indonesia selalu berada di persimpangan ideologi—dan Pancasila masih menjadi medan perebutan pengaruh hingga hari ini. selengkapnya Narasi Rakyat Digital
Hari Kesaktian Pancasila dalam Bayang-Bayang Politik Sejarah
Pasca peristiwa G30S/PKI, Pancasila ditempatkan di titik paling krusial. Orde Baru menjadikannya tameng sekaligus alat legitimasi kekuasaan. Di bawah Soeharto, Pancasila “sakti” bukan hanya karena berhasil mempertahankan diri dari ancaman komunisme, tetapi juga karena dipolitisasi untuk membungkam oposisi.
Asumsi saya, inilah paradoks pertama: Pancasila memang bertahan, tapi dengan harga yang tidak kecil—ia sekaligus dijadikan alat politik dominasi.
30 September: Tragedi Berdarah, Politik Kekuasaan, dan Luka Bangsa
Politik Kontemporer: Ancaman Bukan Lagi PKI
Hari ini, ancaman terhadap Pancasila bukan lagi datang dari PKI—partai itu sudah lama mati. Justru ancaman datang dari dalam tubuh bangsa sendiri:
-
Radikalisme dan intoleransi yang membonceng isu agama.
-
Politik identitas yang memperalat SARA demi elektoral.
-
Polarisasi tajam yang menggerus nilai musyawarah dan persatuan.
Di sini, saya berasumsi bahwa kesaktian Pancasila kini diuji bukan oleh senjata, melainkan oleh algoritma media sosial, disinformasi, dan nafsu politik kekuasaan.
Pertarungan Ideologi yang Abadi Hari Kesaktian Pancasila

Bagi saya, Pancasila hari ini tidak boleh hanya dijadikan jargon seremonial. Jika dulu ia dibela dengan darah para Pahlawan Revolusi, sekarang ia harus dibela dengan konsistensi politik yang berkeadilan.
Tantangan kita jelas: Apakah elite politik benar-benar menjadikan Pancasila sebagai fondasi kebijakan, atau sekadar pajangan di pidato-pidato kampanye?
Sebagai penulis, saya berasumsi—dan sekaligus khawatir—bahwa selama Pancasila hanya dipakai sebagai slogan, ia akan semakin jauh dari kehidupan nyata rakyat. Nilai persatuan akan kalah oleh polarisasi, nilai keadilan akan kalah oleh oligarki, dan nilai kemanusiaan akan kalah oleh politik transaksional.
Refleksi Hari Kesaktian Pancasila
Hari Kesaktian Pancasila bukan nostalgia. Ia adalah panggilan politik—bagi rakyat dan pemimpin. Kesaktian Pancasila kini tidak diukur dari monumen atau film sejarah, tetapi dari sikap kita menghadapi perbedaan.
Kalau kita gagal menjaga Pancasila dari erosi politik identitas, maka sakti hanya tinggal nama. Tapi kalau kita berani menegakkan nilai-nilainya dalam demokrasi hari ini, maka Pancasila benar-benar hidup sebagai ideologi politik bangsa yang abadi.
Tragis, Pasangan Suami Istri di Pasuruan Tega Siksa Anak hingga Tewas
